Gapuraning Rahayu…antara Fanatisme dan Bisnis

bus GR

"Hallo mas, sudah sampai dimana..??"
"Ini lagi ikut GR..baru masuk Cikukun, tunggu aja sebentar lagi juga sampai"

Bagi masyarakat khususnya di wilayah Cilacap Barat, tentu tidak asing lagi dengan dengan istilah penyebutan GR. GR yang dimaksud disini bukanlah Gede Rasa melainkan Gapuraning Rahayu, sebuah brand dari moda transportasi darat (Bus Patas) yang melayani rute/trayek Purwokerto, Wangon, Cilacap, Karangpucung, Kawunganten, Sidareja, Majenang dan sekitarnya dengan tujuan Jakarta (Kampung Rambutan, Lebakbulus, Kalideres, Bekasi, dll)

Keberadaan armada-armada bus ini seakan sudah sedemikian melekat erat dalam kehidupan masyarakat perantau yang berasal dari  wilayah ini yang akhirnya memunculkan fanatisme dari penggunanya, seakan-akan ada yang kurang bila bebergian Jakarta – Karangpucung tanpa menggunakan jasa bus ini.

Hal ini akan sangat terlihat jelas bila musim mudik tiba, di terminal dan titik keberangkatan di Jakarta selalu terjadi penumpukan penumpang yang menanti kedatangan armada-armada GR yang akan mengantarkan menuju kampung halaman masing-masing. Berebut naik dan berdesak-desakan menjadi pemandangan yang khas pada saat-saat tersebut, bahkan sebelum unit-unit bus tersebut memasuki area keberangkatan di terminal sudah terlebih dahulu diserbu oleh para calon penggunanya.

Akan tetapi…*gaya Timbul Srimulat* nampaknya hal ini kurang ditangkap dan diolah secara apik oleh pengelola sebagai sebuah modal/kunci bisnis, Ya…fanatisme sebagai sebuah "Loyalitas Pelanggan". Selama bertahun-tahun pengelola telah berhasil dalam menciptakan Branding Image Gapuraning Rahayu sebagai operator jasa transportasi pilihan masyarakat di wilayah Cilacap Barat. Namun pengelola masih belum berhasil dalam memanage aset perusahaan yang lain, yaitu pelanggan setia.

Pelanggan adalah aset yang sangat berharga. Dari merekalah suatu perusahaan dapat mencapai kesuksesan. Angka penjualan suatu perusahaan dapat meningkat tajam itu berkat bantuan dari para pelanggan yang secara tidak langsung berperan sebagai sales marketing perusahaan. Dengan penerapan teknik marketing yang paling efektif yaitu teknik getok tular atau marketing yang disebarkan dari mulut ke mulut. Namun untuk mencapai hal tersebut tentunya pengusaha juga harus mampu menjaga loyalitas pelanggan.

BAGAIMANA CARANYA ?

Beberapa hal yang mungkin dapat diterapkan :

  1. Perbaiki sistem penjualan "Ticket Selling", apabila memungkinkan gunakan sistem online ticketing. Hal ini untuk memberikan kenyamanan kepada calon penumpang terkait kepastian keberangkatan/armada, kepastian mendapatkan tempat duduk serta untuk menghindari antrian dan saling berebut antar sesama calon penumpang. Online Ticketing tidak berarti mahal karena harus menyiapkan perangkat pendukung (komputer set, printer, dll) penggunaan mobile application lebih disarankan sebagai sarana ticketing awal/booking. Jadi saat akan menggunakan jasa perusahaan/armada, calon penumpang cukup melakukan booking online yang kemudian akan mendapatkan kode verifikasi. Setelah dilakukan pembayaran, bukti pembayaran dan kode booking dapat ditukarkan dengan tiket di agen-agen terdekat.
  2. Perbaiki layanan dalam perjalanan "On Demand Service", tentu sudah dapat diestimasi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menempuh perjalanan Jakarta menuju ke tempat tujuan atau sebaliknya. Berkisar antara 7-9 jam yang dibutuhkan, lalu apa yang akan didapatkan/dinikmati oleh para penumpang selama dalam perjalanan, apakah hanya melihat pemandangan atau malah tidur untuk menghilangkan kebosanan?? Alangkah bagusnya bila pengelola mau memberikan pelayanan ekstra (kebersihan, interior yg representative, audio-visual, dll)untuk kenyamanan pelanggan setianya.
  3. Atur ulang layanan lain "Rest and Resto Service", biasanya setelah menempuh separuh waktu perjalanan penumpang akan diberikan kesempatan istirahat di Rumah Makan yang telah ditentukan. Yang kita lihat selama ini, hubungan antara perusahaan angkutan dengan rumah makan bukanlah sebagai Customer Feeder dari rumah makan yang disinggahi sebagaimana seharusnya. Yang ada dalam kenyataan adalah perusahaan angkutan lebih berperan sebagai Toilet Feeder dari rumah makan yang disinggahi. Kenapa bisa begitu?? karena berdasarkan pengalaman, di rumah makan penumpang akan mendapatkan harga yang jauh lebih tinggi *M-a-h-a-l*, selain itu kenyamanan dalam menikmati hidangan juga kurang dikarenakan waktu istirahat yang terbatas sehingga yang terjadi adalah penumpang yang berhenti di rumah makan lebih memilih untuk sekedar "Anjangsana" ke toilet dan atau Mushola.
  4. Atur/training kembali untuk "Road Safety Awareness" dari crew yang bertugas di armada bus. Seringkali terlihat pengemudi yang membawa kendaraannya dengan tanpa mempedulikan faktor keselamatan, contoh kecil namun bisa berakibat fatal adalah mengemudi sambil ber-SMS-ria, menelepon, dll. Mungkin dalam benak crew tersebut, penggunaan sarana komunikasi akan membantu dalam perjalanan untuk berbagi informasi jalan, penumpang, dll. Namun sudah seharusnya hal tersebut dapat dihindari, bilapun hendak bertukar informasi  situasi jalan, penumpang, dll sebaiknya serahkan kepada crew bus yang lain (Kondektur atau kenek) dan biarkan pengemudi untuk menjalankan tugas utamanya.

Dengan melakukan perubahan dalam memberikan layanan yang lebih baik kepada penumpang setianya, diharapkan hubungan saling menguntungkan antara pengelola/perusahaan dengan konsumen akan selalu terjaga dan memperkecil celah bagi tetangga dari utara untuk mengambil peluang.


Sejarah Singkat PT. Gapuraning Rahayu (sumber : http://gapuraning-rahayu.blogspot.com/)

    Tahun 1977

Pendiri

: Alm. H. Moch. Karno dan Alm. H. Yoyo (1 Januari 1977)
Status : Perusahaan Otobis (PO)
Armada : 5 unit minibus Colt Diesel melayani trayek Tasikmalaya – Cirebon
Alamat : Jl. Stasiun No. 47 Ciamis, Jawa Barat
    Tahun 1978 – 1979
   

Penambahan armada :

  • 1 unit bus Mercedes Benz th 1977
  • 1 unit bus Mitsubhisi Fuso th 1978
    Tahun 1980 – 1982
   

Peremajaan armada :

  • 5 unit minibus Colt Diesel digantikan dengan 5 unit bus Hino BX th 1980

Penambahan armada :

  • 6 unit bus Hino BX th 1981
  • 2 unit bus Hino BB th 1982
    Tahun 1983 – 1985
   

Perluasan Trayek :

  • 4 unit bus Mitsubitshi BM th. 1983, melayani trayek Tasikmalaya –  Cirebon – Jakarta  (Pulo Gadung)
  • 4 unit bus Mercedes Benz OE th. 1983, melayani trayek Banjar – Tasikmalaya – Jakarta (Cililitan)
    Tahun 1986 – 1989
   

Perluasan trayek dan penambahan armada :

  • 2 unit bus Hino AK th. 1986, melayani trayek Banjar – Tasikmalaya – Jakarta (Cililitan)
  • 2 unit bus Hino AK th. 1987, melayani trayek Purwokerto – Karangpucung – Tasikmalaya – Jakarta (Cililitan)
  • 2 unit bus Mitsubitsi BM /th. 1987, melayani trayek Purwokerto – Karangpucung – Tasikmalaya – Jakarta (Cililitan)
    Tahun 1990 – 1995
   

Penambahan trayek :

  • 4 unit bus Mitsubitsi Fitter th. 1990, melayani trayek Tasikmalaya – Cirebon – Jakarta (Cililitan)
  • 2 unit bus Hino RK th. 1990, , melayani trayek Purwokerto – Karangpucung – Tasikmalaya – Jakarta (Cililitan)
  • 3 unit bus Hino RK th. 1990, melayani trayek Banjar – Tasikmalaya – Tanggerang
    Tahun 1996 – 1997
   

Perubahan layanan dari Bus Ekonomi menjadi Bus Patas, perubahan trayek dan peremajaan armada :

Trayek Semula

  • Tasikmalaya – Cirebon – Jakarta (Pulogadung)
  • Tasikmalaya – Cirebon – Jakarta (Pulogadung) – Merak
  • Banjar – Tasikmalaya – Jakarta (Kp. Rambutan)

Menjadi Purwokerto – Tasikmalaya – Jakarta (Kampung Rambutan)

Peremajaan Armada

  • 4 unit bus Mercedes Benz Donking th. 1996
  • 6 unit bus Mercedes Benz OH Interculler th. 1997 (AC / Eksekutif)
  • 10 unit bus Mercedes Benz OH Interculler th. 1997
    Tahun 1998 – 2001
    Penambahan Trayek :

 

 

 

  • Purwokerto – Tasikmalaya – Jakarta (Kampung Rambutan) sebanyak 3 unit bus Mecedes Benz OH Interculler th. 1990

Perluasan Trayek :

  • 4 unit bus Mercedes Benz OH Interculler th. 1999, pada trayek Banjar – Tasikmalaya – Depok
  • 5 unit bus Hino RG th. 2001, pada trayek Banjar – Tasikmalaya – Depok
    Tahun 2002 – 2005
   

Perubahan Status Perusahaan :

  • Pada Akhir Tahun 2001 tepatnya pada tanggal 1 Nopember 2001, sesuai dengan Akta Notaris Nomor 1 / 2001, status PO. Gapuraning Rahayu yang semula Perusahaan Otobis (PO.)  berubah menjadi Perseroan Terbatas (PT.) dengan nama PT. Gapuraning Rahayu, yang mulai efektif berjalan sejak awal tahun 2002

Pemisahan Anak Perusahaan kedalam management sendiri:

  • PO. Putra Jaya dan PO. Perkasa Jaya
    Tahun 2006
   

Menempati kantor baru di Jl. Raya Ciamis – Banjar KM 4, Citutut Pamalayan Cijeungjing Ciamis.